Thursday, January 5, 2017

Adisiku, oh adisiku

Aku gak tahu harus dimulai dari apa dan bagaimana menceritakan apa harus kukatakan dengan merangkai kata atau membingkai kata hingga dipuji, di segani atau jadi bahan pembicaraan. Kukira tak harus begitu. Hahaha, kan juga aku tak ngerti begituan. Aku hanya menuliskan yang ada pikiranku, kurasakan. Selebihnya kenyataan yang ada. Tak urung juga aku sempat heran dengan ini. Apa itu iya? Apa ini pilihan? Ya, pasti semua akan terjadi. Seperti saat ini, satu tahun sudah bersama mereka. Tidak sulit kukatakan tentang mereka namun tidak bisa memulai dari apa dan mengapa kuceritakan itu.  Mereka orang-orang yang bersamaku, dekat denganku sampai tak ingin rasanya berpisah. Tetapi apa daya, waktu dan kesempatan kan berakhir sebentar lagi. Mereka, iya mereka itu orang yang berada di divisi sampai saat ini, Divisi Redaksi.

Rasa sayangku sama divisi ini tak pernah terlepas dari dulu sampai sekarang. Apa mungkin aku dilahirkan dari awal di redaksi? Aku juga tak tahu. Tetapi, yang kurasakan begitu. Jauh lebih dari apa dari dulu. Kadang rasa bosan pasti ada. Rasa jenuh apalagi. Tetapi, kembali berpikir dan mendiamkan diri untuk mencoba mengapa aku yang jadi begini. Mengapa aku memilih bertahan jika aku merasa mulai jenuh. Apa yang sudah kuberikan dan mengapa aku tidak pergi dari dulu jika aku mendapat ilmu yang sama sekali aku gak tahu. Aku belajar sendiri dan tahu tentang itu karena ada yang mengajariku dan memberikan pengetahuannya kepadaku. Jika aku tak memilih masuk didalam dunia mungkin gak tahu apa-apa. Hanya tahu ilmu manajemen saja di kelas tidak ilmu lainnya.

Berakhir bukan berarti melupakan semuanya, tetapi bagaimana disaat bersama, disaat suka dukanya dilalui. Seperti apa yang dikatakan pemateri PJTLN  yang kuikuti, Masa lalu itu perlu diketahui dan diingat dengan menjadikan sebagai evaluasi dan pembelajaran untuk kedepannya. Kuyakin yang pergi tak lagi didalam divisi ini pasti akan tetap ingat masa-masa yang dilalui bersama. Seperti halnya yang akan menjadi alumni di divisi Redaksi, ada bg Indra Syahputra, bg Dhanu Nugroho Susanto, dan Nurtiandriyani Simamora. Aku tak pantas untuk berkomentar tentang mereka, aku tak pantas jua untuk menentang selain mereka, karena masih banyaknya kewajiban-kewajibanku tidak kujalani dengan baik. Bukan pula mengkritik mereka tetapi aku cuma memberikan pandanganku selama ini mengenai mereka. Ahh, menurutku mereka orang hebat, mengapa? Karena bisa bertahan sampai detik akhir.

Bg Indra Syahputra selama ini diamanahkan sebagai pemimpin redaksi (pemred) yang sebentar lagi mungkin tidak berada bersama disini lagi. Bukan berarti komunikasi tidak berjalan dengan baik kalau sudah tidak bersama karena tetap menjalin silaturahmi itu sangat baik sesama manusia. Bg indra, aku tak mungkin mendeskripsikan tentangnya secara keseluruhan karena aku juga tak mengerti begituan. Bg indra mempunyai anggota 27 orang didalam divisi yang dia pimpin sehingga dia harus memahami berbagai karakter anggotanya. Tidak hanya itu dia juga harus bisa jadi panutan yang baik terhadap anggotanya. Kurasa dia banyak melakukan berbagai hal dan menasehati untuk seluruh anggotanya. Namun ya begitu yang datang hanya beberapa orang. Mungkin dia selalu memantau dan mencoba mendekati mengapa dan mengapa? Namun, semua keputusan dan pilihan ada pada anggotanya masing-masing. Aku masih ingat itu diawal-awal mengikuti musyawarah divisi hampir semua datang. Namun lama kelamaan hanya sedikit. Aku tahu dia selalu sedih dan kecewa. Tetapi, aku juga tak bisa melakukan apa-apa, hanya rasa sedih dan diam yang kurasakan. Aku yakin dia sedih, meski terlihat tegar, kuat. Tetapi dia lakukan itu supaya tidak terlihat lemah. Kecewa, iya dia sangat kecewa. Karena semua anggotanya yang terlalu sibuk dengan urusan pribadi sehingga tidak bisa sedikit saja untuk menyenangkan hatinya meski hadir untuk ke sekret saja. Dia selalu di sindir dengan anggota lainnya yang mengatakan, "banyak anggotanya namun yang datang hanya itu saja" rasa sedih yang muncul disaat itu pasti. Apa cuma aku yang merasakan? Entahlah aku tak mengerti dengan itu. Tetapi, sejujurnya aku sedih walaupun dia selalu sabar dengan anggotanya. Terkadang dia orang yang paling banyak memberikan kumotivasi, nasehat dan selalu menegurku disaat ku salah. Ini bukan soal usia meski kutahu usianya lebih tua dariku tetapi dia tidak memikirkan egonya dalam mengambil keputusan. Aku sangat salut samanya, rasanya sangat sedih berpisah dengannya. Mungkin jika dia tidak ada lagi, apa ada yang mau mengingatkan kulagi? Apa ada yang menegurku disaat aku ada salah? Aku jua tak tahu. Namun kesedihan, masukan-masukan, nasehat-nasehat serta motivasi yang dia lontarkan kepadaku masih kuingat. Ingin rasa teriak tetapi aku tak mampu, itu terlalu dramatis. Aku tetaplah menjadi aku. Aku tidak bisa melupakan ingatan itu. Rasaku tidak percaya dalam meninggalkan itu, tetapi sepertiku bilang perpisahan kan terjadi pada waktunya. Kuharap jika ada air mata yang keluar namun, tidak hanya sebuah air mata tetapi juga perubahan yang kulakukan setelah tidak ada lagi yang mengingatkan seperti itu. Kesabarannya mengajarkanku untuk berubah dan menjadi lebih baik dalam bertindak. Terima kasih untuk pemredku selama satu tahun yang memberikan banyak ilmu. Semoga kebaikan yang kamu perbuat akan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan
dan mendapatkan rezeki yang berlimpah.

Di redaksi aku mempunyai redaktur foto yaitu bg Dhanu Nugroho Susanto. Nama kami memang sama, susan. Tetapi dia ada to nya loh. Hehehe. Ada yang melihat kami berdua seperti adik abang kandung. Entahlah, apa iya atau tidak. Tetapi memang dia udah kuanggap seperti abangku di subdivisiku. Meski tak banyak waktunya sekarang untuk meluangkan bersama fotografer lainnya namun, kurasa aku tetap berkomunikasi samanya. Bg dhanu, dia orangnya kalau sudah mau melakukan ya itu dikerjakan. Mengenai fotografi, saat kutak tahu dia menjawab. Tidak hanya itu, dia juga mengajarkanku video. Iya video, hal yang sama sekali aku tidak mengerti tetapi dia mengajarkanku. Dia selalu menjadi tempat ceritaku disaat ada masalah di subdivisi. Dia periang dan cepat menanggapi apa-apa yang menjadi permasalahan. Banyak ilmu yang ada pada bg dhanu. Sangat disayangkan jika ilmunya ada tetapi tidak ditanyakan padanya apa itu. Banyak yang ingin ku deskripsi kan tentangnya tetapi tidak bisa namun ingatan itu akan ada selalu bersama redaktur fotoku. Apalagi disaat mencari lanskap, itu yang paling seru, disitu dia bercerita ini ambil itu. Lalu disaat hunting, dia memberikan masukan-masukan dan mengajak fotografer lainnya untuk ikut hunting semuanya. Iya sekarang kami fotografer hanya ber 5. Ada susan, Ijur, dek roy, dek razi dan bg dhanu.
Ijur, dia yang menjadi fotografer yang 1 angkatan samaku. Dia dulu pendiam, aku juga tidak tahu mengapa sekarang dia jadi bisa berbicara tidak seperti dulu. Sekilas di benakku, dia mungkin banyak menerima masukan sehingga perubahan pun terjadi samanya. Dia selalu memberikan kumasukan juga, meskipun begitu kan tetap kuterima dan dengarkan masukan itu. Tidak hanya dia ada dek roy dan dek razi, kedua adikku ini sudah kuanggap seperti adikku karena aku tidak mempunyai adik laki-laki. Mereka berdua memiliki yang sifat yang berbeda, namun aku berlatih memahami sifat mereka dan selama itu jua mereka merespon dan mendengarkan yang aku bilangkan. Mereka berdua memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, kemungkinan aku tidak bisa lakukan. Kemampuan mereka membuat video, foto. Kuyakin mereka mempunyai kemampuan yang lebih. Hanya saja mereka masih manja dan belum bisa mendewasakan diri. Tetapi aku yakin mereka itu mau mendengarkan nasehat-nasehat, motivasi dan kritik. Aku berharap mereka kan berakhir sampai menjadi alumni, tidak berhenti di tengah jalan meski sifat mereka begitu kuyakin bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Nurtiandriyani Simamora menjabat sebagai redaktur bahasa, sangat tidak mungkin dia menjadi alumni tetapi jenjang pendidikan yang dia pilih harus berkata demikian. Dia satu-satunya angkatanku yang kan wisuda terlebih dahulu. Tia, kusering memanggil nama itu ke dia. Tia teman pjtlnku di makassar, kupikir kalau tidak kutemani dia kan tersasar, jika tidak satu pjtln. Banyak yang ku ketahui tentangnya, namun dia juga seperti itu denganku. Berbagai pandangan kan berbeda melihatnya, begitu juga aku. Aku hanya orang biasa yang menyadari kekurangan dan aku gak ingin berkomentar karena aku bukan orang ahli dalam hal itu. Tia, juga selalu menyapaku. Dia teman dekatku, kurasa ilmu editannya bisa ditularkan kepada lainnya. Aku tak mampu menceritakannya terlalu banyak karena kan esok lusa kuyakin pasti kan bertemu. Meski tak bertemu dan berpisah kuyakin aku dan dia punya kisah yang sama karena 10 hari bersamanya. Sangat sulit di ungkapkan dengan kata dan cerita. Berharap kelak jika sudah menjadi orang hebat, kuharap takkan melupakan kenangan kita, sejarah kita disaat bersama :-) jangan bersedih sobat, kelak kan indah pada waktunya.

Sugi Hartini sekretaris redaksi, aku suka memanggilnya tin, titin bahkan ka titin. Menurutku selama aku di redaksi dia bawel sekali, selalu ingatin anggotanya, dia juga selalu menjadi moderator di musyawarah divisi (mudiv). Dia terlalu sabar melihat tingkah laku anggota yang berbeda. Seperti halnya dia selalu bilang, "jaga nama baik redaksi dek, kak" sepenggal kalimat itu membuatku tersadar dan tersentak yang harus dilakukan dan tidak. Dia mengingatkan waktu untuk mudiv, dia memberikan banyak waktu untuk menunggu anggotanya untuk hadir. Dia selalu mengingatkan lewat wa, sms, bahkan di bbm. Menurutku peran dia sangat sulit karena bertanggung jawab penuh pada redaksi, menjaga inventaris redaksi serta menjaga produk dinamika. Dia selalu tegar dalam hal menjaga nama redaksi. Dia selalu perhatian sama anggotanya sehingga dia tak mampu untuk mendiamkan satu saja anggotanya, menurutku. Dia tidak menjadi alumni namun karena ini untuk adinda redaksi maka kusampaikan tentangnya. Perannya menurutku sangat penting dan butuh perjuangan dan tanggung jawab penuh terhadap redaksi.

Untuk ketiga yang menjadi alumni sudah kuceritakan, lalu aku sedikit bercerita bersama temanku Atika dan Safit. Namanya Atika Winari Putri biasa kupanggil dia ika. Aku tidak tahu mengapa dia bisa dekat denganku, apa aku yang salah atau dia? Hahahaa entahlah, tetapi kusuka dekat dia. Dia itu orangnya kadang suka membuatku kesal sendiri, kadang dia selalu galau dengan kehidupannya. Meskipun dia reporter tetapi kuyakin dia selalu mempunyai banyak liputan. Dia menjadi reporter senior, dia juga selalu peduliin aku, mengingatkanku. Aku sangat gak suka lihat dia tidak makan, apalagi saat makan dia makan sambal. Ikaaaaaaaaaaaa, teriakku jangan makan sambal lagi nanti sakit. Tetapi dia tidak peduliin, Itulah dia. Dia selalu mengingatkanku untuk makan karena aku selalu lupa makan tetapi aku mengingatkannya dia begitu, tetapi kadang dia menuruti apa yang kubilang. Dia temanku, tak selalu menutupi masalahnya namun dia selalu bercerita denganku. Sama seperti Safitri Andriani Nasution, safitri temanku jua, dia berbeda dengan ika. Dia terlalu tertutup. Tetapi samaku dia tetap terbuka denganku. Dia selalu bawel dan mengingatkanku untuk liputan. Untuk nulis. Ahhh sudahlah, dia seperti bg indra yang selalu mengingatkan ku untuk berkarya. Tetapi kuyakin dia menyuruhku untuk kebaikanku dan karyaku agar lebih banyak lagi. Dia bilang dirinya tidak mudah dekat dengan orang, menurutku tidak. Buktinya aku betah dan dekat dengannya. Kadang kesal ada tetapi ya begitu, aku juga selalu usil dengannya. Aku pernah tidur di kos mereka berdua. Mereka senang kehadiranku. Aku ingat disaat aku sama sekali tidak punya uang mereka selalu ada, mereka ada selalu disaatku senang, dan sedih. Ku tak mengerti padahal tidak satu jurusan. Kenangan bersama mereka terlalu banyak. Rasaku tak mungkin untuk terlupakan. Apalagi sama Atika, meski sifatnya begitu namun menurutku dia seperti lainnya. Mendeskripsikan tentang kalian tidak bisa kulakukan sama seperti kubilang pada bagian tia. kalian itu sama temanku. Adinda redaksiku. 

Ada juga M. Hisyam Syahdani selaku Redaktur Pelaksana (Redpel), menurutku dia terlalu tertutup dan diam. Dia bukan sombong karena kuyakin itu. Dia peduli jika mau kita dekat dengannya, menyapanya. Dia mempunyai banyak karya, kuyakin dia mempunyai banyak tips untuk tetap semangat menulis untuk menghasilkan karya. Terkadang aku selalu bilang samanya, "Hisyam sok ganteng" hahahaa. Dia senyum dengan menampakkan giginya. Itulah Hisyam. Orang yang bijak dan mempunyai karya. Namun dia belum menjadi alumni, tetapi ini untuk adisiku. Banyak yang mungkin bisa ditanya dari Hisyam, banyak juga yang bisa diambil sisi kebaikan dari Hisyam. Kurasa Hisyam menurutku kalau tidak dekat dengannya mungkin tidak bisa tahu sifatnya.

Setelah untuk yang akan menjadi alumni, sekred, redaktur. Sekarang aku ingin menuliskan untuk adinda redaksiku tercinta, terkhususnya reporter dan editor.

Untuk reporter, aku yakin kalian masih ingin bertahan lama disini. Aku juga yakin kalian merindukan kebersamaan menjadi satu divisi. Terkadang aku bingung, untuk mengungkapkannya. Kita satu divisi. Mudiv sama-sama, selalu bersama malah namun, hanya itu saja yang kulihat. Kemana? Berpikirlah untuk diri kita sendiri saja, untuk mempunyai karya. Banyak cerita bersama kalian dek Firda, Khairul, Rahmanudin, Ayda, Fitriana. Apalagi disaat semangatnya kalian mencari liputan sana-sini. Kuharap semangat itu ditingkatkan lagi dek. Jangan tahan tangan kalian untuk berkarya. Disaat mudiv menyampaikan sdm reporter baik-baik saja. Bahkan berlomba-lomba dalam liputan.

Lain halnya pada editor, Siti Arifah Syam, Aminata, Nurul Farhana. Ketiga editor ini kurasa orang-orang pilihan yang masuk dan bertahan sampai saat ini. Tidak terlalu dekat dengan mereka namun sifat mereka juga berbeda-beda. Tetap semangat editor dalam mengedit tulisan yang masuk lewat Redol. Jika jenuh coba ingat kenapa masih memilih untuk masuk kedalam dunia ini. Semangat adisiku sayang. Semangat berkarya. Jika masa lalumu lalai  coba perlahan perbaiki. 
Sayang kalian Adisiku( adinda redaksi) yang sekarang berjumlah 20 orang. Terima kasih atas kebersamaan selama 1 tahun ini, semoga kita masih bisa berdinamika adisi.


EmoticonEmoticon