Pengukuran Skala dan Teknik Analisis Data

 PENGUKURAN SKALA DAN TEKNIK ANALISIS DATA
     
    A.    Prosedur Pengukuran

Pengukuran merupakan aturan-aturan pemberian angka untuk berbagai objek sedemikian rupa sehingga angka ini mewakili kualitas atribut[1]. Didalam melaksanaan riset tidak jauh berbeda dengan proses dalam pemecahan masalah. Proses ini menerapkan metode pemecahan masalah yang diajukan oleh John Dewey berdasarkan tulisan dalam bukunya yang berjudul How We Think yang diterbitkan tahun 1910. Langkah-langkah pemecahan masalah itu sebagai berikut:
1.      Merasakan adanya kesulitan atau masalah yang perlu dilakukan pemecahan, dan keadaan kesulitan atau masalah adalah: 
a. Tidak ada alat untuk menyelesaikan. 
b. Mengalami kesulitan dalam mengenali karakteristik persoalan yang menjadi objek untuk dipecahkan.
c. Tidak dapat menjelaskan suatu kejadian yang muncul secara tidak terduga.
2.     Meletakkan dan membatasi kesulitan. Untuk ini, dilakukan observasi dalam upaya mengumpulkan fakta yang memungkinkan ditentukannya atau didefenisikan masalah secara tepat.
3.    Mengajukan usulan pemecahan masalah atau mengajukan hipotesis. Dari hasil pengkajian masalah dan observasi untuk menentukan masalah secara tepat diajukan usulan pemecahan masalah yang memungkinkan ( hipotesis). Hipotesis merupakan pernyataan yang didasarkan pada suatu perkiraan untuk menjelaskan fakta tentang penyebab kesulitan yang dihadapi.
4.      Mengajukan alasan-alasan dan akibat-akibat dari hipotesis yang dirumuskan secara deduktif, yakni jika hipotesis itu benar maka akan muncul sesuati akibat tertentu. 
5.      Menguji hipotesis dengan tindakan. Setiap hipotesis diuji dengan cara mencari bukti yang dapat memverifikasi atau menolak kebenaran hipotesis itu, serta akibat yang akan terjadi dari pengujian tersebut[2]

Pelaksanaan pengukuran itu membentuk suatu kebenaran yang terjadi pada data. Pengumpulan data merupakan salah satu kegiatan penting dalam penelitian, karena kebenaran hasil penelitian sangat ditentukan oleh proses pengumpulan datanya. Sebagian dari kegiatan pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara mengukur variabel penelitian. Mengukur berarti menetapkan dimensi atau taraf sesuatu yang dinyatakan dalam bentuk bilangan.[3]

Sebelum melakukan pengukuran terlebih dahulu harus merumuskan konsep dan variabel penelitiannya. Dalam penelitian, yang diukur adalah variabel-variabel dan hasil pengukuran yang menunjukkan realitas. Secara garis besar, prosedur pengukuran terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut:
1.      Menentukan Dimensi Variabel Penelitian
Menentukan dimensi variabel penelitian dapat diartikan sebagai upaya memperinci atau menguraikan suatu variabel sehingga dapat dirumuskan indikator-indikatornya. Pada langkah pertama ini yang perlu dilakukan adalah:
a.       Penentuan variabel
b.      Penentuan variabel menjadi sub variabel
c.       Penentuan sub variabel menjadi indikator
d.      Penentuan indikator menjadi deskriptor

2.      Merumuskan Ukuran Masing-Masing Dimensi
Pada tahap pertama, setelah dirumuskan indikator-indikator dari masing-masing dimensi atau sub variabel, dirumuskan ukuran dari masing-masing dimensi. Ukuran dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan indikator-indikator dari masing-masing dimensi variabel penelitian[4].

Ada tiga tahapan dalam proses pengukuran yaitu konseptualisasi, penentuan variabel dan indikator, dan operasional. Konseptualisasi merupakan proses pemberian definisi teoritis atau definisi konseptual pada sebuah konsep. Definisi konseptual merupakan suatu definisi dalam bentuk yang abstrak yang mengacu pada ide-ide lain atau konsep lain yang bisa saja abstrak untuk menjelaskan konsep pertama tersebut. Konseptualisasi juga dikatakan sebagai proses yang digunakan untuk menunjukkan secara tepat tentang apa yang kita maksudkan bila kita menggunakan suatu istilah tertentu. Dalam penelitian kuantitatif sebenarnya kita sudah melakukan konseptualisasi pada bagian tinjauan kepustakaan.

Sementara itu operasionalisasi merupakan tahapan terakhir dalam proses pengukuran. Ini merupakan penggambaran prosedur untuk memasukkan unit-unit ke dalam kategori. Definisi operasional merupakan gambaran teliti mengenai prosedur yang diperlukan untuk memasukkan unit-unit analisis ke dalam kategori-kategori tertentu dari tiap-tiap variabel.[5]

Dilihat dari bentuk instrumen dan pernyataan yang dikembangkan dalam instrumen, maka dikenal berbagai bentuk skala yang dapat digunakan dalam pengukuran bidang pendidikan. Alat ukur untuk menilai penampilan (karya tari) digunanakan instrumen nontes yang umum digunakan yaitu participation charts, chek list, rating scale dan attitude scale[6]

Instrumen penelitian digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan daata kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala. Bermacam-macam skala pengukuran akan dijelakan dihalaman berikut.

A.  Macam-macam Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai norma untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.  Dengan skala pengukuran, maka nilai variabel yang diukurdengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka , sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.

Berbagai skala yang dapat digunakan dalam penelitianan Administrasi, Pendidikan dan Sosial antara lain adalah:

1.    Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,pendapat, dan persepsi seseorang  atau sekelompok orang tentang  fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel peneliti.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen  yang dapat berupa pernyataaan atau pertanyaan.
Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
a.       Sangat setuju                     a. Selalu
b.      Setuju                                b. Sering
c.       Ragu-ragu                         c. Kadang-kadang
d.      Ttidak setuju                     d. Tidak pernah
e.       Sangat tidak setuju

a.       Sangat positif                    a. Sangat baik
b.      Positif                                b. Baik
c.       Negatif                              c. Tidak baik
d.      Sangat negatif                   d. Sangat tidak baik
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:[7]
1.      Setuju/selalu/sangat positif diberi skor                                   5
2.      Setuju/sering/positif diberi skor                                              4
3.      Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor                          3
4.      Tiak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor               2
5.      Sanga tidak setuju/tidak pernah diberi skor                            1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.
a.    Contoh Bentuk Checklist:
Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara memberi tanda checklist padakolom yang tersedia.



No

Pertanyaan
Jawaban
SS
ST
RG
TS
STS
1.



2.
Prosedur kerja yang baru ini akan segera ditetapkan diperusahaan anda.

............................







2.    Skala Guttman

Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “Ya-Tidak”, “benar-Salah, “Pernah-Tidak pernah”, “Positif-Negatif” dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupadata interval atau rasio dua alternatif. Jadi, kalau pada skala likert terdapat 3, 4, 5, 6, 7 interval, dari kata “sangat setuju” sampai”sangat tidak setuju” atau “tidak setuju”.  Maka padadalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju” atau “ tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegasterhadap suatupermasalahan yang ditanyakan.

Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda juga dapt dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapt dibuat skor tertinggi dan terendah.

3.    Semantic Defferensial

Skala penelitian yang berbentuk semantic defferensial digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilah ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam garis koetinum yang jawaban”sangat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negatif” terletak dibagian kiri garis. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikp/karakteristik tertentu yang dipercayai seseorang.

4.    Ratting Scale

Dari ketiga skala yang ada pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan Ratting Scale data mentah yang telah diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.[8]

Yang terpenting bagi penyusun instrumen dengan skala rating scale adalah harus dapat menggantikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angak 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2.
Contoh:
Seberapa baik data ruang kerja yang ada diperusahaan A?
            Berilah jawaban dengan angka:
            4.bila tata ruang itu sangat baik.
            3.bila tata ruang itu cukup baik.
            2.bila tata ruang itukurang baik.
            1.bila tata ruang itu sangat tidak baik.
Jawaban dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.[9]

No.item
Pertanyaan tentang tata ruang kantor
Interval jawaban
1.


2.
3.

4.


5.
6.

7.
8.
9.
10.
Penataan meja kerja sehingga arus kerja menjai pendek.

Pencahayaan alam tiap ruangan.
Pencahayan buatan tiap ruangan sesuai dengan kebutuhan.
Warna lantai sehingga tidak menimbulkan pantulan cahaya yang dapat mengganggu pegawai.
Sirkulasi udara tiap ruangan.
Keserasian warna alat-alat kantor, perabot dengan ruangan.
Penempatan lemari arsip.
Penempatan ruangan pimpinan.
Meningkatkan keakraban sesama pegawai. kebersihan ruangan.
4


4
4

4


4
4

4
4
4
4
3


3
3

3


3
3

3
3
3
3

2


2
2

2


2
2

2
2
2
2
1


1
1

1


1
1

1
1
1
1



    B.     Teknik Penyusunan Skala

Teknik penyusunan skala yang paling mudah dan banyak digunakan adalah skala Likert. Teknik Skala Likert memberikan suatu nilai skala untuk tiap alternatif jawaban yang berjumlah lima kategori, yaitu: a. Sangat setuju, b. Setuju , c. Ragu-ragu, d. Sangat tidak setuju. Atau dengan: a. Selalu , b. Sering , c. Kadang-kadang, d. Tidak pernah.

a.      Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengkuantifikasi informasi yang diberikan oleh konsumen jika mereka diharuskan menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan dalam suatu kuesioner. Ada empat skala pengukuran, yaitu skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.

1.      Skala Nominal

Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasi objek, individual, atau kelompok. Sebagai contoh, mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal ini digunakan angka-angka sebagai simbol atau label. Contohnya, kita mengklasifikasi variabel jenis kelamin menjadi sebagai berikut : laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 0. Kita tidak dapat melakukan operasi aritmetika dengan angka ini karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karakteristik tertentu. Contoh lain dalam aplikasi dalam riset pemasaran, sebagai berikut.[10]
a.       Apakah saudara setuju dengan memasarkan beras impor di pasaran bebas saat ini ?
Jawab : a. Setuju                                       b. Tidak setuju
b.      Apakah saudara setuju dengan kenaikan tarif tol ?
Jawab : a. Ya                                             b. Tidak
Jawaban “ya” diberi nilai 1 dan “tidak” nilai 2
2.      Skala Ordinal

Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh objek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu objek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.

Contoh : Jawaban pertanyaan berupa peringkat, misalnya sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju dapat diberi simbol angka 1, 2, 3, 4, dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah. Biasanya jawaban kuesioner menggunakan skala Likert yang digunakan untuk mengukur sikap, misalnya untuk menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap suatu pertanyaan atau pernyataan. Bentuk jawabannya sebagai berikut :
   a.       Sangat tidak setuju
   b.      Tidak setuju 
   c.       Netral
   d.      Setuju
   e.       Setuju sekali[11]

Contoh aplikasi dalam riset pemasaran :

Bagaimana menurut pendapat saudara mengenai layanan penjualan tiket pesawat terbang Garuda ?
Jawab : a. Sangat lambat b. Lambat c. Cepat d. Sangat cepat. Untuk jawaban “sangat lambat” diberi nilai 1, “lambat” diberi nilai 2, “cepat” nilai 3, dan “sangat cepat” diberi nilai 4.
3.      Skala Interval

Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal da ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa interval yang tetap. Dengan demikian, peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau objek dan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka yang digunakan untuk melakukan operasi aritmetika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisis, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametrik.

Contoh aplikasi dalam riset pemasaran :

Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan :
Berapa kali anda membeli produk sampo Pantene dalam satu bulan ?

Jawaban : a. 1 kali, b. 3 kali, dan c. 5 kali. Maka angka-angka 1,3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.

Berapa persen kenaikan harga bahan pokok makanan sehari-hari ?

Jawaban : a. 5% b. 10% c. 15% d. 20%

Jawaban berupa penilian skala antara 1-10

Nilailah layanan kami dengan menggunakan skala sebagai berikut :
Kurang 1 2 3 4 5                                 6 7 8 9 10 baik
4.      Skala Rasio

Skala pengukuran rasio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal, dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absolut nol ini terjadi pada saat suatu karakteristik yang sedang diukur tidak ada. Pengukuran rasio biasanya dalam bentuk perbandingan antara suatu individu atau objek tertentu dan lainnya.
Contoh aplikasi dalam riset pemasaran :

Harga kopi kapal api satu kilo Rp 15.000,- harga kopi luwak satu kilo Rp 75.000,- maka harga kopi kapal api dibandingkan dengan harga kopi luwak sama dengan 1 dibanding 5. Tarif kereta api naik sebesar 10% sedang tarif pesawat udara naik sebsear 20%. Pengunjung berbelanja di supermarket dua kali dalam satu bulan, sedang di pasar tradisional mereka berbelanja 14 kali dalam satu bulan.[12]
   
     C.    Analisis Data Kuantitatif

Data kuantitatif disebut juga dengan data keras diperoleh melalui riset yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Bentuk data keras adalah bilangan atau angka-angka, baik diperoleh dari jumlah suatu penggabungan agah pun pengukuran. Data kuantitatif yang diperoleh dari jumlah suatu penggabungan selalu menggunakan bilangan cacah. Contoh data seperti ini adalah angka-angka hasil sensus, angka-angka hasil tabulasi terhadap jawaban terhadap kueioner atau wawancara terstruktur. Selain itu, data bermuatan kuantitatif hasil pengukiran adalah skor-skor yang diperoleh melalui pengukuran seperti angka hasil mengukur atau menimbang, skor skala rating dan skor jenis-jenis skala lainnya. Dan skor tes.[13]

Setelah data hasil penelitian dikumpulkan oleh peneliti (tentunya dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data), langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh peneliti adalah bagaimana menganalisis data yang telah diperoleh. Langkah ini diperlukan karena tujuan dari analisis data adalah untuk menyusun dan menginterpretasikan data (kuantitatif) yang sudah diperoleh.
   
     A.    Langkah-langkah Analisis Data

            Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu segera digarap oleh staf peneliti, khususnya yang bertugas mengolah data. Di dalam buku-buku lain sering disebut pengolahan data. Ada yang menyebut data preparation, ada pula data analysis.

            Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi tiga langkah yaitu :
    1.      Persiapan
    2.      Tabulasi
    3.      Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian
  
    B.     Persiapan

Kegiatan dalam langkah persiapan ini antara lain :
   1.      Mengecek nama dan kelengkapan identitas pengisi. Apalagi, instrumennya anonim, perlu sekali dicek sejauh mana atau identitas apa saja yang sangat diperlukan bagi pengolahan data lebih lanjut.
    2.      Mengecek kelengkapan data, artinya memeriksa isi instrumen pengumpulan data (termasuk pula kelengkapan lembaran instrumen barangkali ada yang terlepas atau sobek).
Apabila ternyata ada kekurangan isi atau halaman, maka perlu dikembalikan atau diulang ke kancah. Bagi instrumen yang anonim dan tidak mungkin dikembalikan kepada pengisi tentu saja agak merepotkan karena keadaan ini menyebabkan kekurangan responden. Untuk memperoleh responden yang cukup, peneliti harus mengumpulkan data lagi dengan mencari responden baru yang masih dalam wilayah populasi.
    3.      Mengecek macam isian data. Jika di dalam instrumen termuat sebuah atau beberapa item yang diisi “tidak tahu” atau isian lain bukan yang dikehendaki peneliti, padahal isian yang diharapkan tersebut merupakan variabel pokok, maka item perlu didrop.[14]

Contoh :

Sebagian dari penelitian kita dimaksudkan untuk melihat hubungan antara pendidikan orang tua dengan prestasi belajar murid. Setelah angket kembali dan isiannya kita cek, beberapa murid mengisi tidak tahu pendidikn orang tuanya, sebagian jawabannya meragukan dan sebagian lain dikosongkan. Dalam keadaan ini maka maksud mencari hubungan pendidikan orang tua dengan prestasi belajar lebih baik diurungkan saja, dalam arti itemnya didrop, dan dihilangkan dari analisis.

Apa yang dilakukan dalam langkah persiapan ini adalah memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tinggal. Langkah persiapan bermaksud merapikan data agar bersih, rapi dan tinggal mengadakan pengolahan lanjutan atau menganalisis.

Bagi peneliti yang tidak berkecimpung dalam dunia pendidikan sebetulnya dapat saja menggunakan penjelasan-penjelasan ini sebagai contoh saja dan kasus atau variabelnya dapat diganti sesuai dengan judul atau masalah penelitiannya. Sebagai contoh, kalau dalam uraian yang baru saja disampaikan ini mengenai latar belakang pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa, yang dalam hal ini menunjukkan adanya hubungan sebab akibat, maka kasusnya dapat diganti denga latar belakang pendidikan karyawan dengan kinerjanya. Untuk bidang manajemen, mungkin antara latar belakang pendidikan atau pengalaman seorang manajer dengan kemampuan memimpin bawahan. Demikian juga sesudah sampai pada cara mengklasifikasikan data dalam tabulasi, dapat disesuaikan dengan peringkat atau kelompok data yang dikumpulkan.
   
      C.     Tabulasi

G.E.R. Burroughas mengemukakan klasifikasi analisis data sebagai berikut.[15]
1. Tabulasi data (the tabulation of the data).
2. Penyimpulan data (the summarizing of the data).
3. Analisis data untuk tujuan testing hipotesis.
4. Analisis data untuk tujuan penarikan kesimpulan.
Termasuk ke dalam kegiatan tabulasi ini antara lain :
    1.      Memberikan skor (scoring) terhadap item-item yang perlu diberi skor.
Misalnya tes, angket bentuk pilihan ganda, rating scale, dan sebagainya.
     2.      Memberikan kode terhadap item-item yang tidak diberi skor.
a.       Jenis kelamin : laki-laki diberi kode 1.
      Perempuan diberi kode 0.
b.      Tingkat pendidikan :
·         Sekolah Dasar diberi kode 1.
·         Sekolah Menengah Pertama diberi kode 2.
·         Sekolah Menengah Atas diberi kode 3.
·         Perguruan Tinggi diberi kode 4.
c.       Banyaknya penataran yang pernah diikuti dikelompokkan dan diberi kode atas :
·         Mengikuti lebih dari 10 kali, diberi kode 1.
·         Mengikuti antara 1 s.d. 9 kali, diberi kode 2.
   3.      Mengubah jenis data, disesuaikan atau dimodifikasikan, dengan teknik analisis yang akan digunakan.
Misalnya :
·           Data interval diubah menjadi data ordinal dengan membuat tingkatan.
·           Data oridinal atau data interval diubah menjadi data diskrit.    
     4.      Memberikan kode (coding) dalam hubungan dengan pengolahan data jika akan menggunakan komputer. Dalam hal ini pengolahan data memberikan kode pada semua variabel, kemudian mencoba menentukan tempatnya di dalam (coding form), dalam kolom beberapa baris ke berapa. Apabila akan dilanjutkan, sampai kepada petunjuk penempatan setiap variabel pada kartu kolom (puncord).
Contoh pedoman pengkodean (coding scheme) untuk penelitian tentang buku catatan murid adalah sebagai berikut.
X1. Kepandaian murid
            Pandai 1          - Nilai rata-rata (kolom 02)
            Pandai 2          - Nilai bahasa Indonesia (kolom 03)
            Pandai 3          - Frekuensi tidak naik kelas
X2. Latar belakang orang tua
            Pendiko           - Pendidikan orang tua (kkolom 05 + 06)
            Pekerjo            - Pekerjaan orang tua (kolom 07 + 08)
            Dukungan       - Pemberian buku dengan segera (kolom 09)
X3. Kepedulian guru terhadap ctatan
            Pedugu 1         - Kepedulin guru fisik (kolom 10a)
            Pedugu 2         - Kepedulian guru bahasa (kolom 10b)
Pedugu 3         - Kepedulian guru isi (kolom 10c)
Pedugut           - Kepedulian guru total (kolom 10d)[16]
X4. Kepedulian orang tua terhadap catatan
            Peduor 1          - Kepedulian orang tua fisik (kolom 11a)
            Peduor 2          - Kepedulian orang tua bahasa (kolom 11b)
            Peduor 3          - Kepedulian orang tua isi (kolom 11c)
            Peduort           - Kepedulian orang tua total (kolom 11t)
            Y1. Kualfis     - Kualitas fisik
                                      Jumlah kolom 12, 13, 14, 15, 16, 17, 24, 25, 26)
            Y2. Kualbas    - Kualitas bahasa
                                      (jumlah kolom 18, 19, 20)
            Y3. Kualisi      - Kualitas isi
                                      (jumlah kolom 21, 22, 23)
            YT. Kualtot     - Kualitas catatan total
                                      (jumlah kolom 12 s.d. 26 )
   
     D.    Penerapan Data Sesuai dengan Pendekatan Penelitian

Maksud rumusan yang dikemukakan adalah pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang ada, sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang diambil.
Untuk mempermudah cara mengikuti uraian pengolahan data, akan disajikan dengan sistematika mengenai jenis-jenis permasalahn. Sekadar mengingat kembali, ada empat jenis problematika atau permasalahan yang telah diajukan.
1.      Problematika untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena.
2.      Problema komparasi, yaitu problema yang bertujuan untuk membandingkan dua fenomena atau lebih.
3.      Problema untuk mencari hubungan antara dua fenomena yang kedudukannya sejajar (bukan merupakan sebab akibat).
4.      Problema untuk melihat pengaruh sesuatu treatment atau ingin melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Sebagai tambahan penjelasan, yang dimaksud dengan data yang diterapkan dalam perhitungan adalah data yang disesuaikan dengan jenis data, yakni diskrit, ordinal, interval, dan ratio. Pemilihan terhadap rumus yang digunakan kadang-kadang disesuaikan dengan jenis data, tetapi ada kalanya peneliti menentukan pendekatan/rumus, kemudian data yang ada diubah, disesuaikan dengan rumus yang sudah dipilih.




[1] Churchill, Gilbert A. Dasar-Dasar Riset Pemasaran  Edisi 4, Jilid I, Alih Bahasa Oleh Andriani, Dkk, (Jakarta : Penerbit  Erlangga, 2005)
[2] Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014)., h. 30
[3] Neliwati, Metodologi Penelitian Kuantitatif (Kajian Teori dan Praktek), (Medan: 2017)., h. 68
[4] Ibid.., h. 68
[5] Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, Metode Penelitian Kuantitatif , (Jakarta: rajawali pres, 2012)., h.89-91
[6] Dinny Devi Triana, Skala Pengukuran sebagai Alat Evaluasi dalam Menilai Tari Karya Mahasiswa (Measurement Scale as Instrument of Evaluation in Assessing Student’s Piece of Dance)., h. 4
[7] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif, Dan R&D (Bandung:Alfabeta, 2010) Hal 92-93
[8]Sugiyono, Op.cit Hal 96-97
[9]Sugiyono, Op.citHal 98
[10] Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian : SKRIPSI, TESIS, DISERTASI, DAN KARYA ILMIAH (Jakarta: Kencana, 2011)., h. 125
[11] Juliansyah Noor, Op.cit Hal 126
[12] Juliansyah Noor, Op.cit Hal 127-128
[13] Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014)., h. 290
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)., h. 278
[15] Suharsimi Arikunto, Op.cit Hal 279

0 komentar:

Post a Comment